Belajar Berjalan dalam Perspektif Anak, Tantangan dan Cara Mendukungnya

Aqiqah Bandung – Proses pembelajaran berjalan bagi anak adalah sebuah perjalanan yang memerlukan waktu dan dukungan. Ini karena berjalan merupakan kemampuan motorik kasar yang melibatkan penggunaan otot-otot besar pada kaki serta pemeliharaan keseimbangan tubuh.

Untuk memiliki otot kaki yang kuat dan keseimbangan yang baik, anak harus melewati tahap-tahap perkembangan sebelumnya seperti berguling, tengkurap, duduk, merangkak, dan berdiri.

Hal ini memungkinkannya untuk berjalan dengan berpegangan pada furnitur atau benda lain sebagai langkah awal. Proses ini dikenal sebagai merambat.

Dalam umumnya, bayi mulai belajar berjalan dengan merambat atau dengan dukungan orang tua sekitar usia 9 hingga 15 bulan. Pada usia sekitar 10 bulan, mereka mungkin mulai berdiri tanpa dukungan dan menunjukkan kemajuan dalam berjalan antara usia 11 hingga 15 bulan.

Sebagian besar anak akan mampu berjalan dengan lancar pada usia 18 bulan atau 1,5 tahun.

Namun, antara usia 12 hingga 18 bulan, anak-anak memiliki ritme perkembangan yang berbeda-beda. Jika anak membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar berjalan, tidak perlu terburu-buru khawatir.

Selama mereka sudah bisa berdiri sendiri pada usia 12 bulan dan menunjukkan minat dalam bergerak, tidak ada alasan untuk cemas. Perlu diingat bahwa setiap anak memiliki tempo perkembangan yang berbeda.

Namun, jika anak tidak mampu berjalan sendiri setelah usia 18 bulan, bisa jadi mereka mengalami kondisi keterlambatan berjalan. Ini adalah momen yang tepat untuk berkonsultasi dengan dokter guna mendapatkan panduan yang tepat.

Dokter akan melakukan evaluasi lebih lanjut untuk menentukan apakah ada masalah perkembangan yang memerlukan intervensi.

Penyebab Keterlambatan Berjalan pada Anak

Banyak faktor yang dapat menyebabkan anak mengalami keterlambatan dalam berjalan, seperti:

Masalah Otot: Distrofi otot, yang ditandai dengan kelemahan dan penurunan fungsi otot, bisa menjadi penyebab keterlambatan berjalan. Ini memerlukan perhatian medis.

Hipotiroidisme: Fungsi tiroid yang rendah dapat mempengaruhi perkembangan motorik anak. Hormon tiroid yang kurang dapat mengganggu tonus otot dan perkembangan motoriknya.

Kelainan Saraf: Keterlambatan dalam berjalan juga bisa terkait dengan kelainan saraf atau gangguan neurologis, seperti cerebral palsy atau sindrom Down.

Keterampilan Motorik: Anak mungkin mengalami keterlambatan dalam keterampilan motorik secara umum, termasuk berjalan, yang tidak selalu berkaitan dengan masalah medis.

Kurangnya Stimulasi: Kesempatan untuk bergerak secara mandiri penting bagi perkembangan anak. Kurangnya kesempatan ini bisa menghambat proses belajar berjalan.

Kelahiran Prematur: Bayi yang lahir prematur memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami keterlambatan perkembangan.

Cara Mendukung Anak untuk Berjalan

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu anak yang terlambat berjalan:

Bermain di Lantai: Membiarkan anak bermain di lantai mendorong perkembangan keterampilan motoriknya. Furnitur yang bisa dijadikan pegangan membantu mereka membangun kekuatan dan keseimbangan.

Berjalan Bersama: Berjalan bersama anak sambil memegang tangannya membantu mereka membangun keseimbangan dan kepercayaan diri.

Mainan Dorong: Mainan dorong khusus membantu anak membangun keseimbangan dan kekuatan kaki yang diperlukan untuk berjalan.

Berjalan Tanpa Alas Kaki: Berjalan tanpa alas kaki membantu anak mengembangkan otot-otot kaki dan keseimbangan.

Memberi Pujian: Memberikan pujian atas usaha anak mendorong rasa percaya diri dan motivasi mereka.

Proses belajar berjalan adalah langkah penting dalam perkembangan anak. Dukungan dan pemahaman yang diberikan oleh orang tua sangat berarti dalam memastikan anak meraih kemampuan ini dengan baik.

Jika ada kekhawatiran, berkonsultasilah dengan dokter untuk mendapatkan panduan medis yang tepat.

Sumber: GRID.id

Penulis: Aisyah