Browsing: Artikel Aqiqah

Aqiqah Anak Perempuan yang Sesuai dengan Ketentuan Syariat Islam

Aqiqah Anak Perempuan yang Sesuai dengan Ketentuan Syariat Islam

aqiqah anak perempuan

Syarat dan ketentuan aqiqah anak perempuan yang sesuai dengan syariat Islam mesti diketahui oleh masyarakat muslim. Khususnya calon Ayah dan Bunda yang sebentar lagi memiliki bayi berjenis kelamin perempuan, setelah mengecek di USG.

Dengan punya ilmu syarat sah akikah anak perempuan maka InsyaAllah aqiqah yang dilaksanakan akan menjadi berkah.

Tulisan kali ini mencoba mengulas secara rinci tentang syarat dan ketentuan aqiqah anak perempuan. Dengan begitu Ayah dan Bunda bisa jadikan salah satu referensi ketika akan mengaqiqahkan bayi perempuannya.

Sejarah Aqiqah dan Kedudukan Anak perempuan di Zaman Jahiliyyah

Sebelum membahas tentang hukum, syarat dan ketetentuan aqiqah anak perempuan. Tidak ada salahnya mengetahui tentang kedudukan perempuan pada zaman Jahiliyyah.

Perempuan amat direndahkan bahkan tidak berharga sebelum datangnya Islam di tanah Arab. Saat itu, bila ada keluarga yang melahirkan anak berjenis kelamin perempuan, maka keluarga akan merasa malu karena harus menanggung aib.

Makanya, tak heran tiap bayi perempuan dibunuh untuk menghilangkan aib.

Hal ini diabadikan dalam ayat Al-Quran An Nahl: 58.

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُۥ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ

Dan jika seorang dari mereka dikabari dengan (lahirnya) anak perempuan, hitammerahlah  mukanya, lalu dia sangat marah.

Sungguh mengerikan akhlak manusia jahiliyah. Kedatangan Islam memberikan perbaikan akhlak manusia. Perempuan diberi kedudukan mulia yang sesuai dengan kodratnya, salah satunya yaitu ketika bayi perempuan  diaqiqahkan.

Bila di masa pra Islam, seseorang malu karena melahirkan anak perempuan, sebaliknya dalam Agama Islam, kelahiran anak perempuan mesti disyukuri yaitu dengan  menyembelih hewan ternak.

Baik jantan atau betina, keduanya boleh. Simak penjelasan di bawah ini

Aqiqah Anak Perempuan, Jantan atau Betina? Berapa Jumlahnya?

Untuk anak perempuan cukup seekor hewan ternak saja dan boleh jantan atau betina. Pendapat ini disandarkan pada hadits imam An Nasai, yang bunyinya:

Hadits Imam Nasai nomor 4146

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ وَهُوَ ابْنُ أَبِي يَزِيدَ عَنْ سِبَاعِ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ أُمِّ كُرْزٍ قَالَتْ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحُدَيْبِيَةِ أَسْأَلُهُ عَنْ لُحُومِ الْهَدْيِ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ عَلَى الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَلَى الْجَارِيَةِ شَاةٌ لَا يَضُرُّكُمْ ذُكْرَانًا كُنَّ أَمْ إِنَاثًا

Bagi anak laki-laki dua ekor hewan (domba/kambing) dan untuk bayi perempuan satu saja (domba/kambing), pun tak jadi masalah hewan tersebut jantan atau betina. [HR. Nasai No.4146].

Hadits Imam Nasai nomor 4147

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي يَزِيدَ عَنْ سِبَاعِ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ أُمِّ كُرْزٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ لَا يَضُرُّكُمْ ذُكْرَانًا كُنَّ أَمْ إِنَاثًا

Untuk anak laki-laki dua kambing & untuk anak wanita satu kambing, tak masalah atas kalian apakah kambing tersebut jantan atau betina. [HR. Nasai No.4147].

Hadits Imam Nasai nomor 4148

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَفْصِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ هُوَ ابْنُ طَهْمَانَ عَنْ الْحَجَّاجِ بْنِ الْحَجَّاجِ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِكَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ

Rasulullah melakukan aqiqah untuk Al Hasan & Al Husain Radhiyallahu’anhuma dgn dua ekor kambing dua ekor kambing. [HR. Nasai No.4148].

Dalil disyari’atkannya aqiqah adalah hadis nabi s.a.w., antara lain:

عن عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُمْ عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنْ الْجَارِيَةِ  شَاةٌ (رواه الترمذي وصححه

 

 “Dari syahihad Aisyah r.a., sungguh rasulullah s.a.w. memerintahkan kepada para sahabat untuk mengaqiqahkan anak laki-lakinya dengan dua kambing/domba yang besar dan anak perempuan satu kambing/domba” hadis ini shahih menurut  Imam al-Tirmidzi.

Dalam Hadist diatas menerangkan bahwa anak perempuan sah diaqiqahi dengan menyembelih seekor kambing atau domba saja. Sebaliknya, untuk anak laki-laki sangat dianjurkan untuk menyembelih dua ekor kambing bila akan diaqiqahkan.

Hari Pelaksanaan Aqiqah Anak Bayi Perempuan

Waktu atau hari pelaksanaan aqiqah untuk anak perempuan sebetulnya sama saja dengan anak laki-laki, yaitu bila bayi tersebut berusia 7 hari, 14 hari, 21 hari dan seterusnya.

Waktu Pelaksaan aqiqah ini berdasar hadits yang diriwayatkan imam Al Baihaqy, yang bunyinya:

Para ulama’ lebih menyukai jika akikah untuk anak laki-laki atau perempuan dilaksanakan pada hari ke tujuh. Jika orang tua atau yang menanggung nafkah si bayi belum memliki kemampuan melaksanakan aqiqah pada hari ke tujuh, maka pada aqiqah dilaksanakan pada hari ke empat belas, dan jika belum tersedia maka pada hari ke dua puluh satu. Hal tersebut didasarkan pada dalil hadist yang di riaywatkan al Baihaqi seperti berikut:

عنبريدةأنالنبيصلىاللهعليهوسلمقال: العقيقةتذبحلسبعأولأربععشرأولإحدىوعشرين. أخرجهالبيهقي

Dari Buraidah, Rasulullah bersabda: “Pelaksanaan penyembelihan dalam aqiqah yaitu hari ketujuh atau hari ke empat belas atau keduapuluh satu”. (riwayatkan al Baihaqi).

Imam Albani mengatakan bahwa hadist ini dinilai shahih karena dhahirnya sanadnya.

Jenis Hewan untuk Syukuran Aqiqah Anak Perempuan

Para ulama bersepakat bahwa hewan yang boleh dijadikan sebagai sembelihan hanyalah domba dan kambing. Untuk binatang lainnya, selain kambing belum ditemukan dalil yang cukup kuat atau shahih.

Adapun jenis kelamin kambing/domba boleh jantan maupun betina. Hal ini merujuk hadist imam An Nasai dan imam Abu Daud.

Ummu Kurz AI-Ka’biyah bertanya pada Nabi Muhammad SAW mengenai aqiqah. Kemudian, Rasulullah pun bersabda:

عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ لَا يَضُرُّكُمْ ذُكْرَانًا كُنَّ أَمْ إِنَاثًا

Anak laki-laki hendaklah diaqiqahi dengan 2 kambing, sedangkan anak perempuan dengan 1 kambing. Tidak apa-apa memilih yang jantan atau betina dari kambing tersebut.” (HR. Abu Daud no. 2835 dan An Nasai no. 4222. Imam Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini kedudukannya hasan).

Membagikannya Daging Aqiqah Mentah atau Matang?

Daging aqiqah sangat dianjurkan dibagikan pada orang lain, baik karib kerabat, anak yatim maupun fakir miskin. Itulah salah satu anjuran pembagian daging aqiqah yang benar.

Adapun keadaannya mentah ataupun matang? Beberapa ulama berpandangan, membagikan daging aqiqah yang matang dan sudah dimasak justru lebih utama karena meringankan si penerima, ia tidak perlu repot memasaknya.

Coba perhatikan pandangan Ibnu Qayyim ini:

Ibnu Al-Qayyim berkata: “Membagikan daging aqiqah dalam keadaan matang justru lebih baik, karena dengan memasaknya berarti ia telah menanggung biaya memasak, khususnya bagi orang miskin dan para tetangga.

Hal ini adalah fadhilah tersendiri yaitu berbuat kebaikan dalam mensyukuri nikmat ini (kelahiran anak). Maka para tetangga dan orang-orang miskin bisa menikmatinya (masakan) dengan tenang tanpa memikirkan cara memasaknya.

Ditambah lagi, siapa yang diberi daging matang yang siap untuk dimakan maka kebahagiaan dan kegembiraan orang tersebut bertambah sempurna, dibanding ketika menerima daging mentah yang perlu biaya dan tenaga untuk memasaknya”.

Penutup

Demikianlah, hukum, ketentuan dan syarat aqiqah anak perempuan yang meliputi:

  • Sejarah anak perempuan pada masa jahiliyyah
  • Jumlah hewan aqiqah untuk anak perempuan, yaitu cukup seekor saja.
  • Waktu pelaksanaan aqiqah untuk bayi perempuan, dianjurkan hari ke-7.
  • Jenis hewan aqiqah anak perempuan, yaitu domba atau kambing, boleh jantan atau betina.
  • Anjuran membagikan dagingnya matang, karena meringankan si penerima.

Kami doakan Ayah dan Bunda ketika melaksanakan syukuran aqiqah dilancarkan dan sesuai dengan harapan, semoga aqiqah anak perempuan Ayah dan Bunda diterima Allah SWT. Aamiin

Baca Juga:

{ Comments are closed }

Bagaimana Mengajarkan Agama ke Anak-anak, Wajib Baca ya Ayah Bunda

Bagaimana menjelaskan fenomena keagamaan, lengkap dengan pelbagai ragam pandang dan cara orang orang menggunakannya?

Sebelum ke sana, Ayah Bunda tentu saja harus sepakat bahwa agama merupakan salah satu hal yang tidak dapat terlepas dari kehidupan manusia. Sejak dini, manusia dikenalkan dengan agama.

Kemudian, agama menjadi salah satu identitas yang melekat pada setiap diri manusia dan diwujudkan dalam berbagai bentuk ritual peribadatan dan doa. Meskipun agama berasal dari Tuhan dan diyakini kesempurnaannya, agama tetap tidak dapat terlepas dari masalah.

Masalah ini muncul akibat dari agama diyakini dan dipraktikkan oleh manusia, dan manusia memiliki kapasitas yang berbeda-beda dalam menjalankan agama. Oleh karena itu, muncul banyak pendapat dalam satu permasalahan dalam agama.

Banyaknya penafsiran akan permasalahan agama ini kemudian memunculkan perdebatan. Terlebih ketika jaman sudah semakin menjauhi jaman Nabi, namun permasalahan keagamaan yang muncul semakin kompleks.

Di era teknologi saat ini, perdebatan tidak dapat dielakkan. Dengan semakin mudahnya akses informasi menggunakan teknologi, tema-tema agama yang menjadi bahan perbincangan tersebut semakin mudah didapatkan, terlebih oleh anak-anak.

Ketika anak-anak mendapatkan informasi perdebatan tentang permasalahan agama namun tidak mendapatkan respons yang semestinya dari pihak orang dewasa, maka dikhawatirkan akan diserap secara kurang tepat.

Penyerapan informasi yang kurang tepat tanpa adanya filter dan penjelasan, maka mengakibatkan kerentanan terhadap pembentukan sikap dan perilaku yang kurang bijak.

Terlebih ketika mengingat salah satu karakteristik anak adalah mudah mengingat dan cenderung menganggap apapun yang masuk ke otaknya pertama kali sebagai bekal dan pedoman bertindak.

Menurut Walter Houston Clark (1958) dalam bukunya yang berjudul The Psychology of Religion: An Introduction to Religious Experience and Behavior menjelaskan bahwa salah satu ciri sikap keagamaan anak adalah imitatif.

Artinya, anak suka meniru sikap keagamaan yang dilihatnya di kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, dibutuhkan pendampingan dan keterampilan dari pihak dewasa untuk dapat menjelaskan kepada anak. Untuk dapat menjelaskan, maka pihak dewasa hendaknya memahami karakteristik jiwa keagamaan pada anak terlebih dahulu.

Menurut Ernest Harms (1944) dalam artikel jurnal yang berjudul The Development of Religious Experience in Children bahwa perkembangan pengalaman beragama pada anak melalui tiga tahapan. Pertama, The Fairy-Tale Stage.

Baca:

Tahapan ini dimulai ketika anak berusia 3 tahun dan berakhir ketika anak berusia 6 tahun. Pada tahapan ini, konsep mengenai Tuhan dan agama lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi anak, sehingga anak membayangkan Tuhan dan agama layaknya dunia fisik. Kedua, The Realistic Stage. Tahapan ini dimulai ketika anak berkisar usia 7 tahun sampai usia remaja.

Pada tahapan realistic, seorang anak sudah mengkonsepsikan Tuhan dan agama berdasarkan kenyataan akibat dari bimbingan orang di seAyah Bundarnya (misalkan orang tua dan keluarga) dan juga pengaruh lembaga-lembaga keagamaan. Ketiga, The Individual Stage. Pada tahapan ini, seorang anak memiliki kepekaan emosi yang paling optimal dibandingkan masa sebelumnya dan sesuai dengan perkembangan usia kronologisnya.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka salah satu cara menjelaskan fenomena keagamaan pada anak adalah dengan menyesuaikan penjelasan fenomena keagamaan berdasarkan kapasitas dan kriteria perkembangan kognitif anak.
Penyesuaian ini bisa dilakukan dengan cara menyederhanakan penjelasan tanpa mereduksi agama. Selain itu, menurut Jean Piaget (1954) dalam bukunya yang berjudul The Construction Of Reality In The Child dijelaskan bahwa perkembangan kognitif anak bersifat praoperasional (yang bersifat simbolik) dan operasional konkret (pemahaman yang berasal dari contoh atau hal konkret).

Oleh karena itu, menjelaskan fenomena keagamaan bisa menggunakan cara pemisalan, atau mencontohkan peristiwa lain yang lebih sederhana namun memiliki unsur atau karakteristik yang sama.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka Ayah dan Bunda sudah saatnya untuk meningkatkan keterampilan komunikasi dan menyampaikan penjelasan kepada anak.

Jika anak menerima informasi yang kurang tepat dan tidak ada penjelasan dari pihak lain, maka dikhawatirkan akan menjadi pola sikap. Sehingga, potensial membentuk sikap radikal, mudah menyalahkan, dan kurang bijak.

Di sisi lain, pihak dewasa juga hendaknya membatasi akses anak pada teknologi atau sosial media untuk meminimalisir hal tersebut. Jika anak mendapatkan akses tanpa sepengetahuan dan mengakibatkan persepsi yang kurang tepat, maka pihak dewasa bertanggungjawab untuk menjelaskannya. Wallâhu a’lam.

{ Comments are closed }

Hukum Aqiqah Anak di Luar Nikah

hukum aqiqah di luar nikah

Banyak yang bertanya tentang bagaimana hukum aqiqah anak di luar pernikahan.

Sebagai seorang muslim yang bukan ahli dalam hukum Islam maka penulis Ittiba pada Keputusan Dewan Hisbah Persatuan Islam 25-26 Agustus 2015 yang Isinya.

Perihal

Hukum Aqiqah Anak Di Luar Nikah

بسم الله الرحمن الرحيم

Dewan Hisbah Persatuan Islam telah:

Mengingat:

Dasar hukum Alquran Surat Fathir ayat 18 Allah Berfirman Allah SWT :

وَلَاتَزِرُوَازِرَةٞوِزۡرَأُخۡرَىٰۚوَإِنتَدۡعُمُثۡقَلَةٌإِلَىٰحِمۡلِهَالَايُحۡمَلۡمِنۡهُشَيۡءٞوَلَوۡكَانَذَاقُرۡبَىٰٓۗ

Dan orang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. ( QS.Fathir : 18 )

Nabi Muhammad saw. bersabda:

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّيكُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تَذْ بَحُ عَنْهُ يَوْمَسَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

“Tiap bayi tergadai dngan aqiqahnya, disembelihkan (hewan) baginya di hari ke tujuh, dicukur (rambutnya) kemudian diberi nama” [HR Abu Daud, nomor ke 2838, Imam Tirmidzi nomor ke 1522, Imam Ibnu Majah nomor ke 3165 dll periwayatan Samurah bin Jundub r.a. Hadits ini kemudian dishahihkan oleh al-Hakim yang disetujui adz-Dzahabi, Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini dan Syaikh al-Albani dalam kitab al-Insyirah Fi Adabin Nikah halaman ke 97] .

Abu Daud terdapat hadis:

مع الغلام عقيقه فأهريقوا عنه دما وأميطوا عنه الأذى

Tiap anak dengan aqiqahnya, maka sembelihlah hewan (domba, sapi atau kambing) dan hilangkanlah gangguan (gadaian) darinya.

Hadits riwayat Malik:

أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمْرَهُمْ أَنْ يُعَقَّ عَنْ اَلْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ, وَعَنْ اَلْجَارِيَةِ شَاةٌ

Rasulullah SAW memerintahkan mereka untuk beraqiqah dua ekor domba/kambing yang seumur dan sebesar (2 ekor) untuk bayi laki-laki dan satu ekor saja (kambing/domba) bagi bayi perempuan.

Hadits riwayat Ahmad:

مَنْ اَحَبَّ مِنْكُمْ اَنْ يُنْسَكَ عَنِ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ عَنِ الْغُلاَمِ شاَتَاَنِ مُكاَفأَ َتاَنِ وَعَنِ الْجاَ رِيَةِ شاَةٌ

Siapa diantara kamu ingin beribadah (aqiqah) untuk anaknya hendaknya untuk anak laki-laki dua ekor hewan ternak (kambing/domba) yang sama usianya dan untuk anak perempuan setu ekor hewan (kambing/domba)

Menimbang:

  • Pada dasarnya semua anak itu lahir dalam keadaan suci.
  • Tiap bayi yang lahir itu tergadai samapai diaqiqahkan.
  • Dalil-dalil Alquran dan hadis tentang syari’at aqiqah tidak membeda-bedakan apakah anak hasil zina dengan hasil nikah.

Mengistinbath/Menarik Hukum/Menyimpulkan:

Aqiqah bagi anak hasil zina tetap disyari’atkan.

{ Comments are closed }

Hafalkan Doa Ini Supaya Bayi Terhindar dari Gangguan Setan!

Manusia sepanjang hidupnya pasti akan terus digoda oleh setan sampai ajal menjemput dirinya. Tak terkecuali seorang bayi yang baru lahir, dia akan diganggu setan. Dalam Alquran surat Shaad ayat 77-83, Allah menjelaskan bahwa iblis bersumpah akan selalu mengganggu dan menyesatkan seluruh umat manusia.

Allah berfirman Dalam ayat tersebut, “Keluarlah kamu dari surga; sungguh kamu adalah (makhluk) yang terkutuk, Sesungguhnya kutukan-Ku (terus menerus) padamu hingga hari pembalasan.” Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri panjangkanlah (umur) aku sampai hari kebangkitan.” Allah berfirman: “Sesungguhnya (hukuman) kamu termasuk orang-orang akan ditangguhkan, hingga hari yang telah ditentukan waktunya (yaitu hari Kiamat).” Iblis menjawab: “Demi Allah aku akan menyesatkan mereka (manusia), kecuali hamba-hamba-Mu di antara mereka yang mukhlis.” (QS. Shaad: 77-83)

Allah kemudian memperingatkan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh nyata manusia. Allah berfirman, “Sesungguhnya setan itu merupakan musuh nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sungguh setan-setan itu mengajak golongannya agar mereka jadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)

Membaca ayat di atas hendaknya Ayah dan Bunda melindungi anak-anak yang baru lahir dari gangguan setan. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh Ayah dan Bunda agar putera dan puterinya terhindar dari gangguan setan? Solusinya adalah dengan memanjatkan doa kepada Allah.

Baca Juga: Aqiqah Cimahi dan Aqiqah Bandung

Rasulullah SAW acapkali membacakan doa untuk meminta perlindungan kepada Allah bagi Hasan dan Husain. Berikut ini doa yang dipanjatkan;

Audzu bi kalimaatillahit taammati min kulli syaithonin wa haammatin wa min kulli ‘ainin laammatin”. “Aku berlindung dengan kalimah-kalimah Allah yang sudah sempurna yaitu dari godaan setan, hewan beracun dan dari pengaruh ‘ain’ yang jelek).” (HR. Bukhari)

Lebih dari itu Nabi Muhammad SAW pun menjelaskan bahwasanya tiap anak manusia itu diganggu setan ketika dilahirkan. Maka tidak heran tiap bayi yang dilahirkan mengeluarkan tangisan yang keras. Hal tersebut terjadi karena adanya sentuhan antara setan dan bayi.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Tiap-tiap anak manusia diganggu setan saat dilahirkan, makanya dia menangis teriak, itu karena disentuh setan. Kecuali Maryam dan putranya Isa Almasih.” (HR. Bukhari)

Mengapa Maryam dan Isa Almasih tidak pernah diganggu oleh setan, ternyata Istri Imran membacakan satu doa ketika melahirkan Maryam. Pernah dikisahkan dalam Alquran ayat 35-36 surat Ali Imran.

Dalam kedua ayat ini dikisahkan, “Dan ingatlah ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhan, Sesungguhnya aku bernazar pada-Mu jika anak dalam kandunganku adalah hamba yang saleh maka dia akan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Maka dari itu terimalah (nazar) ini dariku. Sesungguhnya Allahlah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Tatkala melahirkan anaknya isteri ‘Imran berkata: “Ya Allah ya Tuhanku, sungguh aku melahirkan seorang anak perempuan; Allahlah yang lebih mengetahui apa (jenis kelamin) yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidak seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku sudah menamainya Maryam dan sungguh aku mohon perlindungan untuknya serta keturunannya kelak, lindungilah dia oleh Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” (QS. Ali Imran: 35-36)

Dengan doa di atas kemudian Allah pun mengabulkannya. Tumbuhlah Maryam menjadi pribadi yang shalihah. Allah senantiasa memberi perlindungan pada Maryam serta keturunannya dari gangguan dan godaan setan.

Sehingga surat Ali Imran ayat ke 35-36 bisa dijadikan rujukan doa untuk memohon perlindungan agar bayi Ayah dan Bunda terhindar dari gangguan setan.

Penutup

Agar putera dan puteri dari Ayah dan Bunda terhindar dari gangguan setan maka bisa mengamalkan doa yang dipanjatkan Nabi Muhammad SAW ketika memohon perlindungan bagi Hasan dan Husein.

Ataupun Ayah dan Bunda dapat mengamalkan doa yang pernah dipanjatkan Istri Imran. Yaitu doa-doa yang terdapat pada surat Ali Imran ayat ke 35 dan 36.

Wallahu a’lam.

{ Comments are closed }

Hukum Aqiqah Anak Kembar?

hukum aqiqah bayi kembar
hukum aqiqah bayi kembar

Dalam artikel sebelumnya menerangkan bahwa hukum aqiqah adalah sunnah muakkad. Aqiqah lebih afdhol jika dilaksanakan di hari ketujuh pasca melahirkan. Pada hari ketujuh pula dianjurkan memberi nama anak serta mencukur habis rambutnya.

Meskipun demikian, aqiqah masih bisa dilaksanakan apabila sudah dewasa. Seperti pernah dibahas dalam artikel: Hukum aqiqah setelah dewasa.  Orang tua tidak lagi diwajibkan membiayi aqiqah anaknya apabila sudah dewasa. Yang mesti mengaqiqahkan dirinya adalah anak itu sendiri.

Dalam hukum Islam Aqiqah dibolehkan menyembelih satu hewan baik bagi anak-laki-laki dan perempuan. Dalilnya yaitu Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi. Rasulullah menyembelih (aqiqah) satu ekor kambing untuk Hasan.

Akan tetapi, lebih afdhal dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan seekor untuk perempuan. Dalil yang membahas hal ini terdapat dalam hadis yang diriwayatkan imam al-Tirmidzi, dalam hadit tersebut dijelaskan bahwa Rasulullah memerintahkan untuk menyembelih dua ekor hewan (kambing) untuk anak laki-laki dan seekor hewan (kambing) untuk perempuan.

Pertanyaan selanjutnya bagaimana apabila anaknya kembar? Bolehkan satu kambing untuk dua anak? atau jumlahnya mesti sesuai dengan jumlah anak? Berkaitan dengan pertanyaan ini, Syeikh Musthafa Bugha dalam Fiqhul Manhaji menjelaskan bahwa sebetulnya tidak cukup hanya satu ekor kambing untuk beberapa orang anak karena yang disunnahkan adalah jumlah domba mesti disesuaikan dengan jumlah anak yang akan diaqiqahkan.

Argumen ini merujuk pada dalil hadis praktik aqiqah yang dilakukan Rasulullah. Beliau mengaqiqahkan cucunya Hasan dan Husein dengan satu ekor kambing tiap bayinya masing-masing. Keterangan ini shahih karena diriwayatkan dalam beberapa jalan yaitu Abu Daud, Hakim, dan lain-lain.

{ Comments are closed }

7 Cara Ikhitar Orangtua agar Anaknya Menjadi Shaleh

Anak merupakan anugerah sekaligus amanah yang Allah berikan pada setiap orang tua. Karenanya mendidik supaya anak menjadi pribadi yang shaleh dan taat merupakan tugas orang tua karena kelak akan dimintai pertangggung jawabannya di hari akhir.

Sayangnya, tugas mendidik anak supaya shaleh/shalehah tak dapat dilakukan dengan instant, perlu keistikomahan dan konsistensi tingkat tinggi.

Triana Luthfiyah Lc, mengatakan bahwa ada 7 cara yang harus kita perhatikan sebagai orang tua dalam mendidik anak agar menjadi pribadi yang shaleh/shalehah.

1. Ajarkan Mahabatullah – Mencintai Allah

Allah berfirman:

Katakanlah, jika kamu (sungguh) mencintai Allah, maka ikutilah (petunjuk) Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni (segala) dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali Imran: 31)

Jika kita simak ayat di atas maka mencintai Allah Ta’ala adalah hal teramat penting sebagai pegangan hidup di dunia sekaligus kebahagiaan di akhirat.

Sebagai orang tua ajarkan dan tanamkanlah kecintaan pada Allah sedini mungkin kepada anak-anak kita. Supaya kelak disaat anak beranjak dewasa dengan segala aktifitasnya, ia lakukan karena cinta yang besar kepada Allah.

Kecintaan kepada Allah adalah salah satu pondasi yang wajib kita tanamkan pada anak kita. Fungsinya sebagai pelindung supaya tidak jatuh tergelincir ke jalan yang sesat dalam mengarungi kehidupan dunia fana ini.

Jika cinta pada Allah sudah jadi mendarah daging pada anak kita. Maka tidak akan sulit lagi menjadi pribadi yang shaleh/shalehah.

2. Kenalkanlah kalimat-kalimat tauhid (Laaillahailallah)

Ikhtiar mendidik anak supaya menjadi pribadi yang shaleh / shalehah salah satunya dengan mengenalkan kalimat tauhid sedini mungkin.

Lebih bagus lagi apabila dikenalkan kalimat tauhid sejak dalam kandungan. Tapi bila sudah terlewat maka bisa dengan cara sering memperdengarkan kalimat tauhid di telinganya.

Dalam sebuah hadis hasan Al-Imam At-Tirmidzi, Ibnu Abbas pernah bercerita : “Pada suatu hari aku pernah berboncengan di belakang Nabi (di atas kendaraan), beliau berkata kepadaku: “Wahai anak, aku akan mengajari engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah”

3. Ajarkan untuk minta pertolongan hanya kepada Allah

Ajarkanlah pada anak agar apabila membutuhkan pertolongan maka mintalah pada Allah. Yakinkan anak bahwa Allahlah satu-satunya penolong dalam semua permasalahan.

4. Ingatkan anak bahwa Allah selalu mengawasi tiap gerak-gerik kita

Tanamkan keyakinan pada anak bahwasanya Allah senantiasa mengawasi tiap tingkah laku kita. Beri kepercayaan, jangan menyangsikan pernyataannya dan katakan bahwa Allah selalu mengawasi kita.

5. Kenalkan Rasul-Nya pada anak-anak

Buatlah anak mengenal nabi, karena ada pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang.

Salah satu metode mendidik anak agar kelak menjadi pribadi yang shaleh yaitu menceritakan perjalanan hidup Nabi Muhammad Shallahu alaihi wasallam mulai sejak ia dalam kandungan sampai beliau wafat.

Kisahkan juga keluarga Rasulullah dan para sahabat. Sampaikan dengan kemasan dan cara yang menarik layaknya para pendongeng professional.

Apalagi anak-anak pada usia balita semangat sekali ketika dibacakan sebuah kisah, bacakanlah menggunakan gaya teatrikal sehingga tampak dan terdengar lebih menarik.

Setelah anak tau kisahnya, lalu ajaklah anak untuk mengamalkan satu persatu nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalam cerita tersebut. Contohnya minumlah menggunakan tangan kanan. Tidak minum berdiri atau berjalan, tebarkan salam, bersifat santun, amanah dan sebagainya.

6. Ajarkan Alquran agar terbiasa

Sejak dini kenalkan pada Alquran supaya kelak menjadi pribadi yang shaleh. Hidupkan suara mp3 ayat-ayat quran tiap hari, agar anak terbiasa mendengar bacaan quran.

Misalnya memperdengarkan surat al-Fatihah 4 kali dalam sehari yang dilakukan selama seminggu. Lalu setelah itu ganti lagi surat pendek lain dan seterusnya.

Jika anak sudah bisa diajarkan membaca alquran maka perlahan-lahan ajari sampai dapat membaca dengan lancar.

Tidak mudah dan butuh kesabaran ekstra. Tapi yakinkan dalam hati dan mintalah doa pada Allah SWT agar putera dan puteri kita menjadi pribadi yang shaleh/shalehah.

7. Tanamkan Kepercayaan pada “qada” dan “qadar”

Cara mendidik anak agar menjadi shaleh/shalehah yaitu dengan melatih anak meyakini akan keberadaan qodo dan qodar.

Tanamkan keyakinan pada anak bahwa Allah-lah yang memegang takdir tiap insan. Allah tahu hal terbaik bagi makhluknya.

Penutup

Keimanan merupakan hal pertama yang mesti kita tanamkan pada anak sebelum ilmu apapun. Dalam proses mengajarkan anak akan keimanan hendaknya disesuaikan dengan jenjang usianya. Bisa dengan bercerita, berkisah, membacakan buku dan mendongeng.

Mudah-mudahan tulisan tentang 7 cara menshalehkan anak ini bermanfaat. Wassalam

{ Comments are closed }

Bagaimana Hukumnya Apabila Qurban dan Aqiqah Digabungkan?

Allah SWT mengingatkan umat Islam melalui RasulNya apabila mampu (berkecukupan harta) maka sisihkan sebagian harta yang dimiliki untuk menyembelih hewan qurban lalu bagikan pada umat muslim lainnya.

Pada prinsipnya ibadah penyembelihan qurban Idul Adha dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah dalam bulan Islam, tepatnya tanggal 10 Dzulhijjah yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Dengan demikian salah satu amalan penting pada Bulan Dzulhijjah adalah berqurban.

Adapun ibadah Aqiqah adalah wujud rasa syukur pada Allah SWT karena diberikan amanah seorang bayi. Dalam Aqiqah,syarat dan ketentuannya yaitu memilih kambing yang berusia satu tahun atau domba putih sehat yang minimal usianya setengah tahun.

Jumlah yang diaqiqahkan adalah untuk laki-laki dua ekor dan satu ekor untuk perempuan. Pelaksanaan aqiqah afdholnya yaitu hari ke-7 setelah kelahiran sang anak.

Masalah kemudian datang apabila ternyata waktu pelaksanan qurban bertepatan dengan ibadah aqiqah, maka munculah perdebatan.

Bagaimana hukumnya apabila qurban dan aqiqah digabungkan secara bersamaan?

Pandangan Pertama: Boleh menggabungkan Qurban dan Aqiqah

Beberapa ulama yang bermadzhab Hanafi, Muhammad Ibnu Siriin, Imam Hasan al Bashri, dan Qatadah berpendapat bolehnya melaksanakan qurban dan Aqiqah secara bersamaan.

Karena tujuan dari kedua ibadah itu sama yakni bertaqarub pada Allah SWT dengan cara menyembelih hewan ternak (kambing atau domba).

Baca Juga:

Tertulis dalam kitab Al-Mushannaf (5/534) Hasan al-Bashri pernah berkata:

إذَا ضَحُّوا عَنْ الْغُلَامِ فَقَدْ أَجْزَأَتْ عَنْهُ مِنْ الْعَقِيقَةِ

Jika mereka berqurban atas nama anak, maka kurbannya masih berlaku sekaligus menggantikan Aqiqah nya.”

Penggabungan qurban dan aqiqah diizinkan apabila memiliki kesamaan jenis. Kedua ibadah ini bukan ibadah yang berdiri sendiri, dengan kata lain bisa diwakili oleh ibadah sejenis lainnya.

Dalam kitab Majmu’ Fatawa wa Rosail Al ‘Utsaimin, 25/287-288 dijelaskan bahwa yang paling tepat itu apabila kaum muslimin punya rezeki yang cukup, hendaknya orang tersebut melaksanakan qurban dengan satu kambing, lalu ditambah aqiqah dengan satu kambing bagi anak perempuan ataupun dua kambing untuk anak laki-laki.

Pandangan Kedua: Tidak Boleh Menggabungkan Kurban Dan Aqiqah

Beberapa ulama yang bermadzhab Malikiyah, dan Syafi’iyyah mengemukakan bahwa Aqiqah dan Qurban memiliki tujuan yang berbeda. Impilkasinya tidak sah jika dilakukan secara bersamaan apalagi digabungkan.

Khabbab bin Marwan Al-Hamad mengatakan:

والخلاصة أنَّه لا يجوز الجمع بين نية الأضحية والعقيقة في ذبح واحد

Kesimpulannya, tidak diperbolehkan untuk menggabungkan niat kurban dan aqiqah dalam satu waktu”

Imam al Haitsami menguatkan,Jika ada orang meniatkan satu kambing untuk qurban dan aqiqah, maka orang tersebut tak sah mendapatkan keduanya, pendapat inilah kuat karena masing-masing qurban dan aqiqah mempunyai tujuan tertentu.” (Tuhfatul Muhtaj Syarhul Minhaj, 9/371)

Penutup

Kesimpulannya, menggabungkan qurban dan aqiqah memiliki dua pandangan yang berbeda.

Namun penulis cenderung setuju dengan pandangan yang kedua karena alangkah lebih baiknya jika kaum muslimin yang punya rezeki yang cukup untuk melaksanakan kedua ibadah tersebut tanpa harus menggabungkannya.

Kalupun tak mampu melaksanakan kedua ibadah tersebut di waktu yang bersamaan, dahulukanlah untuk berkurban karena waktu ibadah ini jangka waktunya lebih sempit. Wallahu’alam

{ Comments are closed }

Chat Sekarang
1
Chat Sekarang
Ada yang bisa kami bantu untuk Aqiqahnya..?