Browsing: Blog

10 Perbedaan Aqiqah dan Qurban yang Wajib Ayah Bunda Ketahui!

10 Perbedaan Aqiqah dan Qurban yang Wajib Ayah Bunda Ketahui!

Aqiqah Bandung – Dalam Islam, aqiqah dan Qurban adalah bentuk ibadah berupa penyembelihan hewan ternak dan pembagiannya kepada orang yang berhak. Meski terlihat serupa, keduanya memiliki banyak perbedaan penting. Perbedaan tersebut mencakup pengertian, tujuan, waktu pelaksanaan, hingga jenis hewan yang disembelih.

Ayah Bunda, di sini Aqila akan menjelaskan perbedaan antara aqiqah dan Qurban yang perlu diketahui oleh umat Muslim. Simak penjelasannya sampai habis, ya!

Perbedaan Aqiqah dan Qurban

Berikut ini beberapa perbedaan utama antara aqiqah dan Qurban:

Pengertian Qurban dan Aqiqah

  • Qurban berasal dari kata yang berarti ‘dekat’. Qurban adalah ibadah yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT pada Hari Raya Idul Adha.
  • Aqiqah berasal dari bahasa Arab “al-Aqqu” yang artinya memotong. Ini merujuk pada penyembelihan hewan sebagai bentuk syukur atas kelahiran seorang anak.

Waktu Pelaksanaan

  • Qurban dilakukan pada Hari Raya Idul Adha dan tiga hari Tasyrik (10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
  • Aqiqah dilakukan pada hari ketujuh setelah kelahiran anak, meskipun tidak ada ketentuan hari raya tertentu.

Tujuan Ibadah

  • Qurban bertujuan untuk meneladani Nabi Ibrahim yang bersedia mengorbankan putranya, Ismail, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
  • Aqiqah bertujuan untuk menyambut kelahiran anak dan sebagai bentuk syukur kepada Allah.

Hukum Melaksanakannya

  • Qurban hukumnya sunnah muakkad, sangat dianjurkan, meskipun tidak wajib.
  • Aqiqah juga sunnah muakkad, sangat dianjurkan, kecuali jika dinadzarkan (dijanjikan), maka menjadi wajib.

Jenis Hewan yang Disembelih

  • Qurban biasanya berupa sapi, kambing, atau domba.
  • Aqiqah umumnya berupa kambing atau domba.

Jumlah Hewan yang Disembelih

  • Aqiqah untuk anak laki-laki adalah 2 ekor kambing atau domba, sedangkan untuk anak perempuan adalah 1 ekor.
  • Qurban tidak memiliki batasan jumlah, sesuai dengan kemampuan finansial.

Prosesi atau Rangkaian Ibadah

  • Aqiqah meliputi niat, penyembelihan hewan, mencukur rambut bayi, memberikan nama anak, dan membagikan daging.
  • Qurban meliputi niat, penyembelihan hewan, dan pembagian daging kepada yang berhak.

Penanganan Daging

  • Aqiqah, Daging biasanya dipotong pada persendian tulang sebagai simbol keselamatan anggota tubuh anak yang diaqiqahi.
  • Qurban, Daging dipotong sesuai pedoman penyembelihan dan dibagikan kepada penerima atau mustahik.

Bentuk Daging yang Dibagikan

  • Aqiqah, Disunnahkan memberikan daging yang telah dimasak.
  • Qurban, Daging diberikan dalam bentuk mentah.

Penerima Daging

  • Qurban: Sebagian daging bisa dimakan oleh yang berQurban, sisanya dibagikan kepada orang yang berhak.
  • Aqiqah: Daging bisa dibagikan kepada siapapun tanpa ketentuan khusus.

Bolehkah Menggabungkan Qurban dan Aqiqah?

Menurut pendapat Imam Syafi’i, Qurban dan aqiqah tidak bisa digabung dalam satu penyembelihan dengan dua niat. Namun, jika aqiqah dilaksanakan bersamaan dengan waktu penyembelihan Qurban, itu diperbolehkan.

Dengan memahami perbedaan ini, semoga Ayah, Bunda beserta umat Muslim lainnya dapat menjalankan ibadah aqiqah dan Qurban sesuai dengan ketentuan dan tujuan masing-masing.

Ilustrasi Kambing Aqiqah dan Qurban. (Foto: Freepik)

Penulis: Elis Parwati

{ Comments are closed }

Menitipkan Anak Kepada Orang Tua Bagaimana Hukumnya? Simak Penjelasan Berikut!

Menitipkan Anak Kepada Orang Tua Bagaimana Hukumnya, Simak Penjelasan Berikut!

Aqiqah Bandung – Kehadiran seorang anak merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh Sebagian besar pasangan yang sudah menikah. Mereka tentunya sangat ingin dikaruniai momongan untuk melengkapi keluarga kecilnya.

Akan tetapi, keinginan tersebut terkadang tidak diiringi dengan kesiapan mental untuk mengasuhnya. Bahkan, beberapa pasangan muda merasa kewalahan untuk merawat anak dan menyeimbangkan kehidupan pribadinya. Apalagi, jika kedua pasangan tersebut sama-sama aktif dalam berkarir. Ada waktunya mereka merasa kurang mampu membagi antara waktu mencari nafkah dan merawat sang buah hati. Hingga akhirnya, peran mereka sebagai orang tua menjadi tidak maksimal.

Oleh sebab itu, tak jarang pasangan yang lebih memilih untuk menitipkan anaknya kepada orang tua maupun mertua. Lantas, bagaimana Islam memandang hal ini? Simak penjelasan berikut!

Hukum Menitipkan Anak Kepada Orang Tua

Mengutip dari pendapat Buya Yahya, dalam ceramahnya di channel YouTube Al-Bahjah TV, beliau mengatakan bahwa seseorang yang sudah menikah sebaiknya tidak menitipkan anaknya kepada orang tua ataupun mertua. Meskipun tidak ada dalil khusus yang melarangnya, namun hal ini tetap dianjurkan untuk tidak dilakukan.

Buya Yahya menganjutkan setiap pasangan untuk tidak lagi merepotkan orang tua dengan menitipkan anak kepada mereka. Terlebih lagi apabila usia orang tua telah memasuki masa senja.

“Ibumu sudah repot denganmu, jangan kau repotkan ibumu dengan anakmu,” ungkap Buya Yahya dalam ceramahnya.

Berbicara terkait merawat anak, sebetulnya Al-Quran telah menjelaskan perkara ini secara detail. Dalam surat Al-Anfaal ayat 27-28, Allah SWT mengatakan bahwa seseorang yang merawat anaknya dengan senang hati akan mendapatkan ganjaran pahala yang besar dari Allah SWT.

Dalam buku Jadilah Istri Penghuni Surga: Dunia dan Akhirat yang disusun oleh Suroso (2016), juga dijelaskan bahwa orang tua yang berhasil merawat anaknya dengan baik, maka dapat dikatakan bahwa doa juga telah berhasil menjaga amanah yang dititipkan oleh Allah SWT. Kedekatan orang tua dengan anak-anaknya, juga dapat menjamin kelangsungan hidup anak yang lebih baik.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul. Janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan, ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya, di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 27-28)

Perkara Pengasuhan Anak di Mata Hukum Indonesia

Dalam hukum Indonesia, kewajiban merawat anak pun dibebankan kepada orang tua. Perkara ini sudah diatur dalam Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Undang-Undang tersebut mengatur tentang kewajiban dan tanggung jawab orang tua untuk mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak. Orang tua juga memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk memantau tumbuh kembang anak sesuai kemampuan dan usianya.

Di samping itu, orang tua wajib mencegah terjadinya perkawinan dini dan memberikan pendidikan karakter yang baik. Hal ini dapat dilakukan dengan menanamkan nilai budi pekerti pada anak sedini mungkin.

Jika orang tua tidak ada, baik itu karena wafat atau karena factor lain, maka hak asuh akan berpindah ke keluarganya. Bisa saja dialihkan ke nenek atau kakeknya, om atau tantenya dan anggota keluarga lainnya.

Ilustrasi anak yang diasuh orang tua. Foto: Getty Image/Edwin Tan

Penulis: Elis Parwati

{ Comments are closed }

5 Cara Mengajarkan Syukur pada Anak

5 Cara Mengajarkan Syukur pada Anak

Aqiqah Bandung – Salah satu nilai yang paling berharga yang dapat diajarkan kepada anak adalah rasa syukur. Syukur adalah sikap mental yang memungkinkan seseorang untuk menghargai dan bersyukur atas segala yang dimiliki dalam hidup, baik besar maupun kecil.

Mengajarkan anak untuk bersyukur tidak hanya membantu mereka mengembangkan sikap positif, tetapi juga membentuk landasan yang kuat untuk kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup mereka.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut adalah beberapa cara efektif untuk mengajarkan rasa syukur kepada anak. Di antaranya:

  1. Contohkan dengan Teladan: Anak-anak belajar melalui contoh yang diberikan oleh orang tua dan tokoh-tokoh di sekitar mereka. Oleh karena itu, sebagai orang tua, penting untuk menunjukkan sikap syukur dalam kehidupan sehari-hari. Berbicara secara positif tentang hal-hal yang dimiliki dan menyatakan rasa syukur secara terbuka akan membantu anak melihat pentingnya bersyukur.
  2. Berbagi Pengalaman: Ajak anak untuk berbicara tentang momen-momen di mana mereka merasa bersyukur. Diskusikan bersama tentang hal-hal yang mereka hargai, seperti teman-teman, keluarga, atau pengalaman positif lainnya. Ini membantu mereka memahami konsep syukur secara lebih dalam.
  3. Berikan Pendidikan tentang Privilese: Ajarkan anak untuk mengenali dan menghargai keuntungan dan kesempatan yang mereka miliki. Bicarakan tentang anak-anak di tempat lain di dunia yang mungkin tidak memiliki akses kepada hal-hal yang sama. Ini membantu anak memahami bahwa banyak hal yang mereka anggap sebagai hal biasa sebenarnya adalah sebuah anugerah.
  4. Ajarkan Empati: Mengajarkan anak untuk berempati dengan orang lain yang kurang beruntung merupakan langkah penting dalam mengembangkan sikap syukur. Ajak mereka untuk terlibat dalam kegiatan amal atau memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Ini akan membuka mata mereka tentang berbagai realitas hidup dan memperkuat rasa syukur.
  5. Praktekkan Bersama: Buatlah kegiatan-kegiatan keluarga yang secara khusus menekankan rasa syukur. Misalnya, membuat daftar hal-hal yang membuat mereka merasa bersyukur setiap hari, atau meluangkan waktu untuk berdoa bersama sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah SWT.

Mengajarkan anak untuk bersyukur adalah investasi yang berharga dalam pembentukan karakter dan kesejahteraan mereka.

Dengan memperkuat sikap syukur dalam diri mereka, anak-anak akan mampu melihat dunia dengan lebih positif, mengatasi tantangan dengan lebih baik, dan menjalani kehidupan yang lebih bahagia dan bermakna.

Sumber foto: google.com

Penulis: Nafisah Samratul Fuadiyah

{ Comments are closed }

Anak Tantrum Jangan Dimarahi! Lakukan Ini Agar Anak Mengenali Perasaan Dan Mengelola Emosinya

Anak Tantrum Jangan Dimarahi! Lakukan Ini Agar Anak Mengenali Perasaan Dan Mengelola Emosinya

Aqiqah Bandung – Tantrum adalah kondisi di mana anak meledakkan emosi negatifnya dengan berbagai cara, seperti menangis kencang, berteriak, marah, keras kepala, bahkan melempar barang. Hal ini dapat disebabkan karena keinginannya tidak terpenuhi atau ada perasaan yang sulit diungkapkan.

Ketika anak merasa bosan, kesal, lelah, atau mengantuk, mereka bisa menjadi pemarah dan melemparkan barang di sekitarnya. Namun, sering kali orang tua menanggapi emosi marah anak ini sebagai sesuatu yang tidak diinginkan dan berusaha segera mengatasinya.

Tidak jarang orang tua malah memarahi anak yang keras kepala dan sulit diberitahu. Padahal, emosi marah merupakan emosi normal dan bagian penting dalam tumbuh kembang anak.

Namun, tenang saja. Tantrum pada anak usia 1-5 tahun adalah hal yang wajar, sebagai bagian dari fase tumbuh kembang mereka. Kosakata yang terbatas membuat anak sulit mengungkapkan keinginannya, sehingga mereka hanya bisa melepaskan emosinya melalui tantrum.

Meski demikian, emosi negatif yang tidak dikontrol dengan baik dapat memengaruhi kehidupan sosial anak dan memicu sikap agresif. Oleh karena itu, orang tua perlu mengajari anak untuk mengenali dan mengelola emosinya secara bijak. Berikut caranya!

Ajarkan Anak Mengenali Emosinya

Tantrum pada anak tentu ada penyebabnya. Ini sering terjadi pada anak usia 1-2 tahun yang mencoba menyampaikan perasaannya. Sebelum mengatur emosinya, kita perlu mengajari anak untuk mengenali dan memahami perasaannya.

Sebagai orang tua, bantu anak mengenali emosi mereka dengan memperkenalkan jenis-jenis emosi. Ajarkan sebutan untuk beberapa emosi, seperti emosi positif (bahagia, terharu) dan emosi negatif (marah, kesal, sedih, kecewa).

Mulailah mengajarkan anak untuk mengomunikasikan perasaannya. Tanyakan apa yang dirasakannya dan apa yang diinginkannya. Ajarkan juga untuk memperhatikan perubahan fisik dan emosi ketika mereka merasa marah.

Misalnya, ketika anak tertawa, katakan “Adik bahagia, ya?” atau ketika anak kesal, tanyakan “Apa yang membuat adik kesal?” Dengan cara ini, anak dapat lebih mudah memahami diri sendiri dan mengatasi emosinya dengan tepat.

Validasi Emosi Anak dan Pahami Pemicunya

Ketika anak menyampaikan perasaannya, validasi perasaan tersebut dan katakan bahwa emosi yang dirasakan itu normal dan alami. Perasaan anak perlu divalidasi agar mereka tahu bahwa orang tuanya mengerti, memahami, dan mengakui perasaannya.

Ini bisa membantu perkembangan emosional anak. Ketika anak diizinkan mengekspresikan perasaannya, mereka akan menjadi pribadi yang lebih terbuka dan jujur.

Mereka juga bisa mengembangkan rasa kasih sayang pada diri sendiri. Misalnya, jika anak merasa marah karena mainannya diambil temannya, katakan, “Adik sedih karena mainannya diambil? Tidak apa-apa kalau mau menangis dulu.”

Selain itu, ketika anak tantrum, pastikan untuk mengetahui pemicu kemarahan sebelum memberi nasihat. Dengan mengetahui penyebab tantrum, orang tua bisa mencari solusi yang tepat sesuai permasalahannya.

Ajarkan Anak Mengekspresikan Emosinya dengan Cara yang Sehat

Setelah mengetahui pemicu emosinya, ajarkan anak mengekspresikan emosinya dengan cara yang tepat dan sehat. Ajarkan mereka untuk mengomunikasikan perasaannya tanpa amarah. Misalnya, katakan, “Adik boleh marah, boleh bilang aku marah, tapi tidak boleh teriak.”

Berikan Contoh Perilaku Pengelolaan Emosi yang Tepat

Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat di sekitarnya. Sebagai orang tua, kita perlu memberikan contoh perilaku yang baik dan tepat ketika menghadapi situasi yang bisa menimbulkan emosi marah.

Misalnya, ketika menghadapi situasi yang menyebalkan, selesaikan dengan kepala dingin dan damai, serta hindari perilaku agresif. Dengan menunjukkan sikap positif, anak akan meniru perilaku orang tuanya.

Berikan Waktu Sendiri

Salah satu cara mengendalikan emosi anak adalah dengan memberikan waktu sendiri. Saat anak marah atau tantrum, mereka bisa melakukan hal-hal buruk seperti melempar barang atau memaki. Biarkan anak sendiri dahulu.

Setelah tenang, beri tahu bahwa perilaku tersebut salah. Ingatkan untuk tidak mengulanginya dan beri waktu sekitar 5-10 menit untuk menyendiri. Setelah itu, minta anak merapikan barang yang dilemparnya dan meminta maaf.

Ajarkan Teknik Relaksasi untuk Mengelola Emosi Anak

Ketika anak mulai tenang, ajarkan teknik relaksasi sederhana, seperti menarik napas sampai hitungan ketiga dan menghembuskan napas perlahan, atau meniup lilin.

Berikan gambaran agar anak membayangkan lilin ulang tahun, kemudian menarik napas panjang dan menghembuskannya seolah meniup lilin.

Berikan Apresiasi Anak

Apresiasi usaha anak yang mau belajar mengelola dan mengontrol emosinya. Dengan apresiasi dari orang tua, anak merasa dihargai dan bangga atas usahanya dalam mengendalikan emosi.

Sumber gambar: kumparan.com

Penulis: Elis Parwati

{ Comments are closed }

7 Tanda Kebutuhan Nutrisi Anak Sudah Terpenuhi

7 Tanda Kebutuhan Nutrisi Anak Sudah Terpenuhi

Aqiqah Bandung – Kesehatan dan perkembangan anak sangat tergantung pada asupan nutrisi yang cukup dan seimbang. Namun, terkadang sulit bagi orang tua untuk mengetahui apakah anak mereka telah menerima nutrisi yang cukup atau belum.

Lantas, apa ciri nutrisi anak sudah terpenuhi? Artikel ini akan membahas tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kebutuhan nutrisi anak sudah terpenuhi, sehingga Ayah Bunda dapat memastikan bahwa anak mereka tumbuh sehat dan kuat. Di antaranya:

  1. Pertumbuhan yang Seimbang

Salah satu tanda utama bahwa kebutuhan nutrisi anak sudah terpenuhi adalah pertumbuhan yang seimbang.

Anak yang mendapatkan nutrisi yang cukup akan menunjukkan pertumbuhan yang proporsional sesuai dengan usianya. Mereka akan memiliki berat badan yang sesuai, tinggi badan yang proporsional, dan perkembangan fisik yang normal.

  1. Energi yang Cukup

Anak-anak yang mendapatkan asupan nutrisi yang memadai akan memiliki energi yang cukup untuk melakukan berbagai aktivitas sehari-hari.

Mereka akan aktif, bersemangat, dan tidak mudah lelah. Selain itu, mereka juga akan memiliki konsentrasi yang baik dan mampu belajar dengan baik di sekolah.

  1. Kulit Sehat dan Bersinar

Kulit yang sehat dan bersinar adalah tanda bahwa anak mendapatkan nutrisi yang cukup, terutama vitamin dan mineral penting seperti vitamin A, C, dan E.

Kulit anak yang sehat akan terlihat lembut, halus, dan bebas dari masalah kulit seperti kering, kemerahan, atau jerawat.

  1. Rambut dan Kuku Kuat

Anak yang mendapatkan nutrisi yang cukup juga akan memiliki rambut yang kuat, berkilau, dan tidak mudah rontok. Selain itu, kuku mereka akan kuat dan tidak mudah patah atau rapuh.

Ini menandakan bahwa mereka mendapatkan cukup protein, zat besi, dan vitamin B kompleks yang penting untuk pertumbuhan rambut dan kuku yang sehat.

  1. Sistem Kekebalan Tubuh yang Kuat

Anak-anak yang mendapatkan nutrisi yang cukup akan memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat. Mereka akan jarang sakit dan lebih cepat pulih jika mereka jatuh sakit.

Ini karena nutrisi seperti vitamin C, D, dan zinc membantu meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi dan penyakit.

  1. Siklus Tidur yang Teratur

Anak-anak yang mendapatkan nutrisi yang cukup cenderung memiliki pola tidur yang teratur dan nyenyak. Mereka akan bisa tidur dengan nyaman di malam hari dan bangun dengan segar di pagi hari.

Gangguan tidur atau kesulitan tidur dapat menjadi tanda bahwa anak tidak mendapatkan nutrisi yang cukup.

  1. Nafsu Makan yang Baik

Nafsu makan yang baik adalah tanda bahwa anak mendapatkan nutrisi yang cukup. Mereka akan memiliki selera makan yang baik dan menikmati berbagai jenis makanan sehat.

Namun, penting juga untuk memperhatikan bahwa setiap anak memiliki pola makan yang berbeda-beda, jadi tidak selalu ada hubungan langsung antara nafsu makan dan kebutuhan nutrisi.

Mengetahui tanda-tanda kebutuhan nutrisi anak sudah terpenuhi sangat penting bagi orang tua untuk memastikan kesehatan dan perkembangan optimal anak.

Dengan memperhatikan pertumbuhan fisik, tingkat energi, kesehatan kulit, rambut, kuku, sistem kekebalan tubuh, pola tidur, dan nafsu makan anak, orang tua dapat memastikan bahwa anak mereka mendapatkan nutrisi yang cukup untuk tumbuh menjadi individu yang sehat dan bahagia. Selalu konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi jika Ayah Bunda memiliki kekhawatiran tentang asupan nutrisi anak, ya!

Sumber foto: google.com

Penulis: Nafisah Samratul Fuadiyah

{ Comments are closed }

7 Cara Membantu Si Kecil Menjadi Mandiri dan Berani Sejak Dini

7 Cara Membantu Si Kecil Menjadi Mandiri dan Berani Sejak Dini

Aqiqah Bandung – Kemandirian dan keberanian adalah keterampilan penting yang dapat diajarkan kepada anak sejak dini. Memberikan pendidikan kepada anak-anak tentang kemandirian dapat membantu mereka untuk tidak selalu bergantung pada orang lain, yang pada gilirannya akan memberikan manfaat baik bagi orang tua maupun anak itu sendiri, terutama ketika orang tua sibuk dengan tugas-tugas lain.

Orang tua dapat memperkenalkan anak-anak dengan berbagai aktivitas dan rutinitas yang sederhana dan mudah dilakukan. Misalnya, anak dapat diajari untuk mandi, berpakaian, sarapan, dan melakukan aktivitas sehari-hari lainnya sendiri.

Berikut adalah tujuh tips untuk membantu mengajarkan anak menjadi mandiri dan berani sejak dini, yang telah kami rangkum dari berbagai sumber:

  1. Memberi Anak Tanggung Jawab

Langkah pertama dalam mengajarkan kemandirian dan keberanian kepada anak adalah memberikan mereka tanggung jawab. Orang tua dapat memberikan tugas-tugas sederhana kepada anak yang memerlukan tanggung jawab, seperti menyikat gigi, makan, atau mengemas tas sekolah sendiri.

  1. Menghindari Campur Tangan Berlebihan

Orang tua perlu menghindari campur tangan berlebihan ketika anak melakukan kesalahan. Kesalahan adalah bagian alami dari pembelajaran, dan saat anak masih kecil, mereka dapat diajari cara untuk membuat pekerjaan menjadi lebih mudah. Namun, saat anak tumbuh dewasa, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri.

  1. Memberi Anak Ruang

Memberikan anak ruang untuk belajar dan berkembang adalah penting. Dukung kemandirian anak dengan memberikan kesempatan bagi mereka untuk menjelajahi dunia tanpa pengawasan yang berlebihan. Biarkan mereka bermain di lingkungan yang mereka sukai tanpa terlalu banyak campur tangan, sehingga mereka dapat belajar menjadi mandiri dan berani.

  1. Mengajarkan Anak Memecahkan Masalah

Orang tua dapat mengajarkan anak untuk memecahkan masalah mereka sendiri, baik itu masalah di sekolah, dalam pertemanan, atau dalam kehidupan sehari-hari. Anak perlu dipandu untuk menemukan solusi dari masalah mereka dengan memberikan perspektif yang berbeda.

  1. Menghindari Koreksi Berlebihan

Meskipun seringkali sulit untuk melihat anak melakukan kesalahan, penting untuk menghindari mengoreksinya secara berlebihan. Sebagai contoh, jika anak tidak dapat merapikan tempat tidurnya dengan baik, jangan mengoreksinya dengan emosi. Berikan contoh dan pahami bahwa mereka masih dalam proses pembelajaran.

  1. Memberi Anak Kebebasan dalam Pengambilan Keputusan

Memberikan sedikit kebebasan kepada anak untuk membuat keputusan mereka sendiri dapat membantu mereka merasa lebih mandiri. Misalnya, jika Anda meminta anak untuk menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum bermain, biarkan mereka memutuskan apakah mereka ingin bermain terlebih dahulu atau menyelesaikan pekerjaan rumah terlebih dahulu, asalkan mereka memenuhi janji mereka.

  1. Tidak Menganggap Kesalahan sebagai Hal yang Besar

Dalam proses pembelajaran kemandirian dan keberanian, anak-anak mungkin akan mengalami kegagalan. Penting untuk tidak menganggap kesalahan atau kegagalan tersebut sebagai masalah besar, karena hal tersebut dapat menghambat perkembangan mereka dalam menjadi mandiri dan berani.

Dengan menerapkan tujuh tips di atas, semoga Ayah dan Bunda dapat membantu si kecil untuk menjadi mandiri dan berani sejak dini, sehingga mereka dapat menghadapi tantangan hidup dengan percaya diri dan kemampuan yang kuat. Semoga tips ini bermanfaat bagi Ayah Bunda dan keluarga!

Sumber gambar: Google

Penulis: Elis Parwati

{ Comments are closed }

Tradisi Lebaran yang Menyenangkan Untuk Dilakukan Bersama Keluarga di Kampung Halaman

Tradisi Lebaran yang Menyenangkan Untuk Dilakukan Bersama Keluarga di Kampung Halaman

Aqiqah Bandung – Momen yang dinanti-nantikan, Lebaran, sebentar lagi tiba! Lebaran bukan sekadar momen berlibur, tapi juga saat untuk bersilaturahmi, berkumpul bersama keluarga, dan menghidupkan tradisi-tradisi yang menyenangkan. Kampung halaman menjadi tempat yang ideal untuk merayakan Lebaran. Sudahkah sebagian dari kita, bersama suami dan si kecil, bersiap-siap untuk pergi ke kampung halaman?

Selain sekadar berkunjung, di kampung halaman terdapat banyak tradisi yang dapat dinikmati bersama keluarga. Berikut adalah beberapa tradisi Lebaran yang bisa dilakukan:

  1. Menjenguk Sanak Saudara:Lebaran merupakan momen yang tepat untuk berkunjung ke rumah sanak saudara. Selain mempererat silaturahmi antar keluarga, berkunjung ke rumah sanak saudara juga menjadi kesempatan untuk saling memaafkan dan bermaaf-maafan. Dengan memperkuat silaturahmi, akan semakin menghidupkan kehangatan dalam keluarga.
  2. Menyantuni Anak Yatim:Menyantuni anak yatim merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan dalam agama Islam. Di kampung halaman, biasanya terdapat beberapa panti asuhan yang dapat dikunjungi untuk memberikan santunan kepada anak yatim. Melalui kegiatan ini, selain membawa kebahagiaan bagi anak yatim, juga memberikan pelajaran moral yang berharga bagi keluarga.
  3. Bermain Permainan Tradisional:Di kampung halaman, terdapat berbagai jenis permainan tradisional yang dapat dimainkan bersama keluarga, seperti congklak, dakon, gasing, dan lainnya. Bermain permainan tradisional ini tidak hanya menghadirkan keceriaan dan kesenangan, tetapi juga memperkenalkan generasi muda pada nilai-nilai kearifan lokal.
  4. Memasak Makanan Khas Lebaran:Salah satu kegiatan yang mengasyikkan adalah memasak makanan khas Lebaran bersama keluarga. Di kampung halaman, terdapat beragam makanan khas Lebaran seperti ketupat, rendang, opor ayam, dan lainnya. Aktivitas memasak bersama ini tidak hanya mempererat hubungan keluarga, tetapi juga memberikan pengalaman berharga dalam mengolah makanan khas Lebaran.
  5. Bersilaturahmi dengan Tetangga: Lebaran adalah waktu yang tepat untuk bersilaturahmi dengan tetangga. Melalui kegiatan ini, hubungan antar tetangga dapat dipererat, sementara keluarga juga dapat memperkenalkan diri kepada tetangga yang belum mereka kenal sebelumnya.
  6. Berziarah ke Makam Keluarga:Satu tradisi yang tak terpisahkan adalah berziarah ke makam keluarga. Momen Lebaran menjadi waktu yang tepat untuk mengunjungi makam keluarga, mengenang kenangan bersama orang-orang tercinta yang telah meninggalkan kita. Ini juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan si kecil pada sanak saudara yang telah berpulang.
  7. Menikmati Keindahan Alam: Terakhir, menikmati keindahan alam di kampung halaman. Tempat-tempat wisata alam seperti air terjun, sawah, atau perkebunan dapat menjadi destinasi untuk dinikmati bersama keluarga. Menikmati keindahan alam ini tidak hanya membawa kebahagiaan, tetapi juga memberikan kesempatan untuk menenangkan pikiran setelah menjalani berbagai aktivitas yang padat.

Ramadan berlalu begitu cepat, bukan? Dengan Lebaran yang semakin dekat, banyak keluarga yang sudah bersiap-siap untuk pergi ke kampung halaman. Di sana, tradisi-tradisi Lebaran seperti menjenguk sanak saudara, menyantuni anak yatim, bermain permainan tradisional, memasak makanan khas Lebaran, bersilaturahmi dengan tetangga, berziarah ke makam keluarga, dan menikmati keindahan alam dapat dinikmati bersama. Semoga tradisi-tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan keluarga, tetapi juga memberikan kesan indah dan berharga dalam momen Lebaran. Selamat menikmati Lebaran!

Sumber gambar: Google

Penulis: Elis Parwati

{ Comments are closed }

Chat Sekarang
1
Chat Sekarang
Ada yang bisa kami bantu untuk Aqiqahnya..?