Browsing: Blog

Penyebab Kenakalan Pada Anak Dalam Perspektif Islam

Penyebab Kenakalan Pada Anak Dalam Perspektif Islam

Aqiqah Bandung – Kenakalan pada anak merupakan fenomena yang sering kali menimbulkan keprihatinan bagi orang tua dan masyarakat pada umumnya. Sejumlah faktor yang mendasari kenakalan ini telah dijelaskan dalam buku “Tarbiyah Al-Awlad fi Al-Islam” karya Syaikh ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan.

  1. Orang Tua Jauh Dari Agama

Salah satu faktor utama kenakalan pada anak adalah jauhnya keterlibatan orang tua dalam hal keagamaan. Dari Abu Waqid Al-Harits bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang duduk di masjid dan orang-orang sedang bersamanya, tiba-tiba datanglah tiga orang. Maka dua orang menghampiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan yang satu pergi. Lalu kedua orang tua itu berdiri di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya melihat tempat yang kosong di perkumpulan tersebut, maka ia duduk di sana. Sedangkan yang satu lagi, duduk di belakang mereka. Adapun orang yang ketiga pergi. Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai, beliau berkata, “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang tiga orang?

Yang pertama, ia berlindung kepada Allah, maka Allah pun melindunginya. Yang kedua, ia malu, maka Allah pun malu terhadapnya. Sedangkan yang ketiga, ia berpaling maka Allah pun berpaling darinya.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 66 dan Muslim, no. 2176)

Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang mendekati ilmu akan mendapatkan perlindungan dan keberkahan. Orang tua yang aktif dalam kegiatan keagamaan cenderung memberikan dampak positif pada anak-anak dan keluarga mereka.

  1. Pengaruh Lingkungan Sekitar yang Buruk

Lingkungan sekitar anak memiliki peran penting dalam membentuk karakter mereka. Anak-anak yang terpapar pada lingkungan yang buruk, seperti pergaulan bebas, penggunaan narkoba, atau obsesi pada permainan video, cenderung terpengaruh secara negatif. Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan pentingnya pergaulan yang baik melalui perumpamaan minyak wangi yang harum dan besi yang panas.

  1. Perlakuan Buruk dari Orang Tua

Perlakuan kasar dan tidak penuh kasih dari orang tua juga dapat menjadi penyebab kenakalan pada anak. Allah SWT menekankan pentingnya berbicara dengan kata-kata yang baik kepada sesama manusia. Perlakuan yang kasar hanya akan menjauhkan anak dari orang tua dan menghambat perkembangan mereka.

Allah telah memerintahkan kepada kita,

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83)

Dalam ayat lain disebutkan,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖوَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)

  1. Paparan dari Tayangan Konten Kekerasan dan Pornografi

Paparan pada konten kekerasan dan pornografi melalui media seperti televisi dan internet juga menjadi faktor utama kenakalan pada anak. Anak-anak yang terpapar pada konten-konten negatif ini cenderung menginternalisasi perilaku yang tidak pantas. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk melindungi anak-anak dari paparan yang merugikan tersebut.

Untuk mendidik anak dengan baik, ada tiga prinsip penting yang perlu diperhatikan:

  • Orang tua harus memberikan perlindungan dan pendidikan agama kepada anak-anak mereka.
  • Orang tua harus merasa bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak mereka sesuai dengan ajaran Islam.
  • Orang tua harus menghindari segala hal yang dapat membahayakan anak-anak mereka, termasuk paparan pada konten negatif di media.

Dengan memahami faktor-faktor tersebut dan mengambil langkah-langkah yang tepat, diharapkan orang tua dapat membimbing anak-anak mereka menuju kehidupan yang baik dan bermanfaat sesuai dengan ajaran Islam.

Referensi:

Tarbiyah Al-Awlad fi Al-Islam. Edisi ke-37, Tahun 1434 H. Dr. ‘Abdullah bin Nashih ‘Ulwan. Penerbit Darus Salam.

Sumber gambar: Aqiqah Al Hilal

Penulis: Elis Parwati

{ Comments are closed }

Berapa Banyak Kambing yang Diperlukan Untuk Aqiqah Anak Perempuan Menurut Sunnah?

Berapa Banyak Kambing yang Diperlukan Untuk Aqiqah Anak Perempuan Menurut Sunnah?

Aqiqah Bandung – Salah satu adat yang lazim diamalkan umat Islam ketika menyambut kelahiran seorang anak adalah aqiqah. Aqiqah melibatkan penyembelihan hewan ternak seperti kambing. Namun, berapa jumlah kambing yang diperlukan untuk itu?

Secara etimologi, aqiqah berarti memotong. Beberapa pandangan juga mengaitkan aqiqah dengan potongan rambut bayi yang baru lahir. Dalam Fiqh Ibadah oleh Zaenal Abidin, aqiqah dijelaskan sebagai sembelihan yang dilakukan untuk menyambut kelahiran anak sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Ada banyak hadits yang merujuk pada kewajiban aqiqah dalam Islam. Sebagai contoh, dalam kitab Shahih Bukhari, Sulaiman ibn Ami adh-Dhaby ra. meriwayatkan sabda Rasulullah SAW:

“Anak yang baru lahir hendaknya diaqiqahi. Alirkanlah darah (sembelihan kambing) dan hilangkanlah kotoran serta penyakit yang menyertai anak tersebut (cukurlah rambutnya).” (HR. Bukhari).

Dalam sebuah riwayat lain, Samurah ibn Jundab ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى

Artinya: “Setiap anak yang dilahirkan itu tergadai dengan aqiqahnya, yaitu seekor kambing yang disembelih untuknya pada hari ketujuh, lalu si anak diberi nama dan rambut kepalanya dicukur.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Baihaqi, dan Al-Hakim).

Menurut mazhab Syafi’i, aqiqah merupakan sunnah muakkadah, yang artinya adalah suatu ibadah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan. Namun, jika tidak dilakukan, tidak dianggap sebagai dosa.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa aqiqah dilakukan baik untuk anak laki-laki maupun perempuan yang masih kecil, sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW yang menyebutkan pelaksanaan aqiqah pada hari ketujuh.

Terkait dengan jumlah hewan aqiqah, terdapat perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan. Menurut Imam Asy-Syafi’i, Abu Tsaur, Abu Dawud, dan Ahmad sebagaimana disebutkan dalam Kitab Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid Jilid 1 oleh Ibnu Rusyd, untuk anak perempuan, aqiqahnya adalah satu ekor kambing, sedangkan untuk anak laki-laki adalah dua ekor kambing.

Pendapat tersebut diperkuat oleh hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, di mana Umm Kurz al-Ka’biyyah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Untuk anak laki-laki sembelihlah dua ekor kambing dan untuk anak perempuan satu ekor saja.” (HR. Abu Dawud).

Imam Nawawi rahimahullah dalam kitabnya al-Majmu menjelaskan bahwa hewan yang layak (sah) disembelih untuk aqiqah adalah domba yang dewasa dan kambing yang dewasa yang sudah memiliki gigi seri (gigi depan). Hewan aqiqah juga harus bebas dari cacat, secara umum mirip dengan hewan kurban.

Sumber gambar: Google

Penulis: Elis Parwati

{ Comments are closed }

Hati-Hati! Ternyata Anak Juga Bisa Terkena Hipertensi

Hati-Hati! Ternyata Anak Juga Bisa Terkena Hipertensi

Aqiqah Bandung – Perlu Ayah dan Bunda ketahui bahwa tak hanya orang dewasa saja, tetapi anak-anak juga dapat menderita hipertensi. Berbagai faktor, mulai dari konsumsi garam berlebihan hingga kurangnya aktivitas fisik, bisa menjadi pemicu.

Penting untuk mengenali gejala dan langkah-langkah pencegahan, karena tanpa penanganan yang tepat, hipertensi pada anak dapat mengakibatkan komplikasi serius.

Hipertensi pada Anak Penyebab dan Cara Mengatasinya

Hipertensi terjadi saat tekanan darah dalam pembuluh darah anak terlalu tinggi. Kondisi ini bisa mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah di berbagai bagian tubuh, termasuk jantung, otak, dan organ lainnya, bahkan menyebabkan pecahnya pembuluh darah.

Penyebab Hipertensi pada Anak

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan hipertensi pada anak antara lain:

  1. Konsumsi garam berlebihan

Konsumsi garam yang berlebihan dapat menyebabkan peningkatan aliran darah dalam pembuluh darah. Ini membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh, sehingga meningkatkan tekanan darah.

  1. Kelebihan berat badan

Obesitas atau kelebihan berat badan juga merupakan faktor risiko hipertensi pada anak. Biasanya, hipertensi akibat obesitas dialami oleh anak usia 7 tahun ke atas.

  1. Kelainan bawaan

Anak-anak, terutama yang berusia di bawah 6 tahun, dapat menderita hipertensi karena kelainan bawaan seperti penyakit jantung, gangguan ginjal, gangguan hormonal, atau kelainan genetik.

  1. Kurangnya aktivitas fisik

Anak-anak yang kurang aktif dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk diam, seperti bermain game atau menonton TV, berisiko lebih tinggi untuk mengalami hipertensi.

Faktor lain yang dapat meningkatkan risiko hipertensi pada anak meliputi jenis kelamin laki-laki, kelahiran prematur, berat badan lahir yang tidak normal, riwayat keluarga dengan hipertensi, diabetes tipe 2, kolesterol tinggi, paparan asap rokok, gangguan tidur, dan penggunaan obat-obatan tertentu seperti steroid.

Cara Mencegah dan Mengatasi Hipertensi pada Anak

Penanganan hipertensi pada anak melibatkan langkah-langkah yang mirip dengan penanganan pada orang dewasa. Beberapa cara untuk mencegah dan mengatasi hipertensi pada anak antara lain:

  1. Diet sehat

Menerapkan pola makan yang sehat dapat membantu mengontrol tekanan darah anak. Diet antihipertensi, dengan mengkonsumsi makanan yang kaya akan sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan rendah garam serta makanan manis, sangat dianjurkan.

  1. Aktivitas fisik

Anak perlu diajarkan untuk aktif bergerak dan berolahraga secara teratur. Aktivitas fisik membantu menjaga kesehatan pembuluh darah dan jantung.

  1. Hindari asap rokok

Paparan asap rokok dapat meningkatkan tekanan darah dan merusak kesehatan jantung anak. Jauhkan anak dari lingkungan yang merokok.

  1. Konsultasi dengan dokter

Jika perubahan gaya hidup saja tidak cukup, dokter mungkin akan meresepkan obat penurun tekanan darah. Penggunaan obat harus sesuai dengan petunjuk dokter.

Jangan tunda lagi untuk menciptakan gaya hidup sehat dalam keluarga. Lakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin sejak usia dini, dan berkonsultasilah dengan dokter untuk penanganan yang tepat.

Hipertensi pada anak jika tidak ditangani dengan baik dapat berlanjut hingga dewasa dan meningkatkan risiko penyakit serius seperti stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan gangguan ginjal.

Sumber gambar: Hello Sehat

Penulis: Elis Parwati

{ Comments are closed }

Bolehkah Menunaikan Aqiqah di Bulan Haram?

Bolehkah Menunaikan Aqiqah di Bulan Haram?

Aqiqah Bandung – Aqiqah merupakan salah satu sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Ibadah ini dilakukan sebagai bentuk syukur atas kelahiran seorang anak, serta sebagai wujud ketaatan kepada perintah Allah SWT.

Namun, ada pertanyaan yang sering muncul terkait pelaksanaan aqiqah di bulan haram, seperti bulan Muharram. Sebelum membahas apakah boleh atau tidak melaksanakan aqiqah di bulan haram, Ayah Bunda mari kita memahami konsep aqiqah dalam Islam.

Konsep Aqiqah dalam Islam: Aqiqah adalah ibadah yang dilakukan dengan menyembelih hewan ternak sebagai tanda syukur atas kelahiran seorang anak.

Dalam pelaksanaannya, daging hewan yang disembelih tersebut kemudian dibagi-bagikan kepada fakir miskin, saudara, dan tetangga sebagai bentuk berbagi rezeki. Aqiqah biasanya dilaksanakan pada hari ke-7 setelah kelahiran anak.

Bulan Haram dan Pembatasan Ibadah: Bulan haram, seperti Muharram, memiliki keistimewaan dan kehormatan tertentu dalam Islam. Sebagian ulama berpendapat bahwa ada pembatasan tertentu terkait jenis ibadah tertentu di bulan ini.

Namun, dalam hal aqiqah, mayoritas ulama sepakat bahwa pelaksanaannya tetap diperbolehkan di bulan haram.

Dalil-dalil yang Mendukung: Beberapa dalil yang digunakan untuk mendukung bolehnya melaksanakan aqiqah di bulan haram antara lain hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan tidak ada larangan khusus terkait aqiqah di bulan tertentu.

Sebagai contoh, hadis dari Aisha ra. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim menyatakan bahwa Rasulullah SAW melakukan aqiqah untuk Hasan dan Husain di bulan Muharram.

Makna Kebaikan dan Kehormatan: Melaksanakan aqiqah di bulan haram dengan niat yang ikhlas dapat menjadi bentuk kebaikan dan kehormatan.

Selain memenuhi sunnah Rasulullah SAW, aqiqah di bulan haram juga dapat dianggap sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menyelenggarakan ibadah yang dikehendaki dalam situasi apapun.

Tata Cara dan Niat yang Ikhlas: Dalam melaksanakan aqiqah di bulan haram, penting untuk memastikan bahwa tata cara penyembelihan dan pembagian daging sesuai dengan syariat Islam. Selain itu, niat yang ikhlas dalam melakukan aqiqah tetap menjadi kunci utama agar ibadah tersebut diterima oleh Allah SWT.

Dalam kesimpulannya, mayoritas ulama sepakat bahwa melaksanakan aqiqah di bulan haram, seperti Muharram, tetap diperbolehkan dalam Islam.

Namun, penting untuk melaksanakan ibadah ini dengan mematuhi tata cara yang benar, membagi daging kepada yang berhak, dan menjaga niat agar tetap ikhlas dan tulus untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sumber foto: google.com

Penulis: Nafisah Samratul Fuadiyah

📱Info Pemesanan Aqiqah Al Hilal 🔽🔽🔽

CS WA Gegerkalong, Cilame 0812 2242 9223

CS WA Cibiru dan Jalan Golf 0877 0034 7724

CS WA Luar Bandung 0811 2233 1008

Aqiqah Al Hilal, Dobel Pahalanya Soleh Anaknya 💚

{ Comments are closed }

Si Kecil Tantrum Lakukan Ini Untuk Mengatasinya

Si Kecil Tantrum Lakukan Ini Untuk Mengatasinya

Aqiqah Bandung – Anak tantrum bisa menjadi tantangan yang melelahkan bagi orang tua. Tantrum adalah reaksi emosional yang melibatkan kemarahan, frustasi, dan terkadang bahkan menangis secara berlebihan. Untuk membantu mengatasi tantrum anak, Ayah Bunda, inilah beberapa tips yang dapat diikuti oleh orang tua, di antaranya:

  1. Tetap Tenang: Pertama-tama, penting untuk tetap tenang. Jangan terbawa emosi anak. Tantrum adalah cara anak mengungkapkan ketidaknyamanan atau kekecewaan, dan respon orang tua yang tenang dapat membantu menenangkan suasana.
  2. Pahami Penyebab Tantrum: Coba pahami penyebab tantrum anak. Apakah itu karena kelelahan, lapar, atau rasa frustrasi? Dengan memahami penyebabnya, Anda dapat mencari solusi yang lebih tepat.
  3. Berikan Pilihan: Berikan anak pilihan yang sesuai usianya. Memberikan kontrol pada anak dalam batas-batas tertentu dapat membantu mengurangi frustrasi dan mencegah tantrum.
  4. Jelaskan dengan Sederhana: Terkadang, anak belum mampu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Jelaskan secara sederhana mengapa perilaku tersebut tidak dapat diterima, dan berikan alternatif yang lebih baik.
  5. Ajak Anak untuk Berbicara: Ajak anak berbicara setelah tantrum mereda. Tanyakan apa yang membuatnya marah atau frustrasi. Ini dapat membantu anak mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaannya.
  6. Buat Rutinitas yang Konsisten: Anak cenderung merasa lebih aman dan nyaman dengan rutinitas yang konsisten. Jadi, pastikan ada jadwal harian yang dapat diandalkan.
  7. Hindari Penggunaan Bestekanan atau Hukuman: Hindari mengancam atau menghukum anak selama tantrum. Ini bisa membuatnya semakin frustrasi. Sebaliknya, fokuslah pada memberikan dukungan dan membimbingnya ke arah yang positif.
  8. Beri Pujian untuk Perilaku Positif: Berikan pujian ketika anak menunjukkan perilaku yang diinginkan. Ini dapat memberikan dorongan positif untuk berperilaku dengan cara yang lebih baik.
  9. Memberikan Ruang untuk Ekspresi: Ajak anak untuk menggambar, mewarnai, atau berbicara tentang perasaannya. Ini memberikan cara alternatif untuk mereka ekspresikan emosi.
  10. Jangan Malu Minta Bantuan: Jika tantrum anak terus berlanjut atau menjadi semakin sulit diatasi, jangan ragu untuk mencari saran dari ahli anak atau konselor.

Mengatasi tantrum adalah bagian dari perjalanan orang tua. Dengan kesabaran, pemahaman, dan pendekatan yang konsisten, InsyaAllah Ayah Bunda pun dapat membantu anak mengelola emosinya dengan lebih baik.

Ingatlah bahwa setiap anak unik, jadi perlu waktu dan kesabaran untuk menemukan strategi yang paling efektif untuk mereka. Semangat terus, Ayah Bunda!

Sumber foto: google.com

Penulis: Nafisah Samratul Fuadiyah

{ Comments are closed }

Menanamkan Sikap Toleransi Pada Anak Sejak Dini

Menanamkan Sikap Toleransi Pada Anak Sejak Dini

Aqiqah Bandung – Ayah dan Bunda, Dalam rancangan alam semesta-Nya, Allah SWT menciptakan keberagaman yang kaya, melibatkan manusia, hewan, dan tumbuhan. Keberagaman ini membentuk kekayaan dan keindahan dunia. Perbedaan-perbedaan tersebut merupakan rahmat, kekuatan, dan karunia yang harus tercermin melalui sikap saling menghormati atau toleransi terhadap sesama makhluk.

Penting bagi Ayah dan Bunda untuk mendidik, memberi contoh, dan membiasakan sikap toleransi pada anak sejak usia dini. Semoga panduan ini dapat menjadi referensi bagi Ayah dan Bunda dalam menanamkan sikap toleransi pada anak-anak.

Toleransi adalah cara menghargai dan menerima perbedaan dalam perilaku, budaya, agama, dan ras yang ada di dunia ini.

Mengapa Kita Perlu Menanamkan Sikap Toleransi Pada Anak Sejak Dini?

  1. Membuka Wawasan Anak Terhadap Dunia. Toleransi mengajarkan anak untuk membuka pikiran terhadap berbagai budaya di dunia.
  2. Mendorong Kerjasama. Toleransi mendorong anak untuk belajar bekerjasama dengan orang lain.
  3. Mengajarkan Penerimaan. Toleransi mengajarkan anak untuk menerima orang lain apa adanya dan memperlakukan mereka sebagaimana kita ingin diperlakukan.
  4. Menghargai Tanpa Kehilangan Identitas Diri. Toleransi mengajarkan anak untuk menghargai orang lain tanpa harus mengorbankan identitas diri dan budaya.

Apa yang Terjadi Jika Anak Tidak Memiliki Sikap Toleransi?

Tidak memiliki sikap toleransi adalah awal dari perilaku intimidasi. Anak cenderung menilai orang lain yang berbeda dengan dirinya dan menunjukkan ketidaksukaan dengan cara mengganggu, menyerang, mengejek, dan bahkan melakukan intimidasi.

Anak yang tidak mampu bertoleransi biasanya merasa tidak nyaman dengan kemampuan, keyakinan, dan nilai-nilai yang telah diajarkan padanya.

Bagaimana Cara Menanamkan Sikap Toleransi pada Anak?

  1. Menumbuhkan Rasa Cinta Kasih. Tunjukkan pada anak bahwa orang tua selalu mencintai, bahkan ketika anak menunjukkan perilaku yang tidak baik. Anak membutuhkan bimbingan, bukan hukuman.
  2. Menerima dan Menghargai Perbedaan di Keluarga. Pahami dan hindari memaksa anak memiliki sifat, gaya bicara, atau kemampuan berpikir yang sama dengan saudara atau orang tua lain. Bantu anak memiliki nilai diri yang positif.
  3. Memberi Contoh yang Baik. Orang tua harus memberi contoh perlakuan baik terhadap asisten rumah tangga, penjaga keamanan, atau pegawai di supermarket.
  4. Mengawasi Materi Percakapan dan Gaya Bergurau. Perhatikan percakapan atau gurauan yang bersifat stereotip di dekat anak. Anak akan menyerap sikap orang tua terhadap perbedaan.
  5. Jawab Pertanyaan Anak dengan Bijaksana dan Jujur. Saat anak bertanya tentang perbedaan, berikan contoh dan ajarkan anak untuk menghormati orang lain.
  6. Pilih Konten yang Menghargai Perbedaan. Pilih acara TV, film, permainan, dan cerita yang menghargai perbedaan dan hindari yang menyudutkan suku, agama, atau ras tertentu.
  7. Berikan Anak Kesempatan untuk Berinteraksi dengan Berbagai Orang dan Situasi. Aktivitas seperti olahraga atau klub seni dapat membuka wawasan anak tentang keberagaman.
  8. Pelajari Bersama Mengenai Budaya dan Tradisi Lain. Ajak anak untuk belajar tentang cara hidup dan merayakan kehidupan di budaya lain.
  9. Kenalkan dan Banggakan Tradisi Keluarga. Bagikan pengalaman dan cerita tentang tradisi keluarga, membantu anak memahami akar budaya dan menghargai keunikan keluarganya.

Sikap Toleran dalam Kehidupan Beragama

Sikap toleran dalam kehidupan beragama melibatkan:

  1. Melaksanakan ajaran agama dengan baik
  2. Menghormati agama orang lain
  3. Tidak memaksakan keyakinan pada orang lain
  4. Bersikap toleran terhadap keyakinan dan ibadah lain
  5. Tidak menyalahkan atau merendahkan agama lain

Sumber gambar: Islam Kaffah

Penulis: Elis Parwati

{ Comments are closed }

Tips Melindungi Anak dari Bahaya Internet dan Sosial Media

Tips Melindungi Anak dari Bahaya Internet dan Sosial Media

Aqiqah Bandung – Internet dan media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan anak-anak. Meskipun menyediakan akses ke informasi dan komunikasi, internet juga membawa potensi risiko dan bahaya.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengambil langkah-langkah proaktif dalam melindungi anak-anak mereka dari potensi bahaya tersebut, di antaranya:

  1. Atur Batasan Waktu:
    • Tentukan batasan waktu penggunaan internet dan media sosial.
    • Pastikan anak-anak memiliki waktu yang cukup untuk kegiatan fisik, sosial, dan pendidikan di luar dunia maya.
  2. Pantau Aktivitas Online:
    • Pertahankan kehadiran online Anda sebagai orang tua.
    • Gunakan perangkat lunak kontrol orang tua untuk memantau aktivitas online anak-anak.
  3. Peraturan dan Konsistensi:
    • Tetapkan aturan jelas tentang penggunaan internet dan media sosial.
    • Terapkan konsekuensi yang konsisten jika aturan dilanggar.
  4. Aktif Bersosialisasi di Dunia Nyata:
    • Dorong anak untuk terlibat dalam kegiatan sosial di dunia nyata.
    • Ajarkan mereka pentingnya interaksi sosial di luar layar.
  5. Gunakan Filter Keamanan:
    • Aktifkan filter keamanan dan kontrol orang tua pada perangkat mereka.
    • Ini membantu menyaring konten yang tidak sesuai dan melindungi anak-anak dari paparan berbahaya.
  6. Bimbingan dalam Memilih Teman Online:
    • Ajarkan anak untuk berhati-hati dalam memilih teman online.
    • Pastikan mereka tahu bahwa tidak semua orang di internet dapat dipercaya.
  7. Model Perilaku Positif:
    • Jadilah contoh yang baik dalam penggunaan internet.
    • Tunjukkan kepada anak bahwa Anda juga menghargai keamanan dan etika online.

Melindungi anak-anak dari bahaya internet dan media sosial memerlukan peran aktif dan kesadaran dari orang tua. Dengan memberikan pemahaman, aturan yang jelas, dan dukungan, orang tua dapat membantu anak-anak menavigasi dunia digital dengan aman dan bijak.

Sumber foto: google.com

Penulis: Nafisah Samratul Fuadiyah

📱Info Pemesanan Aqiqah Al Hilal 🔽🔽🔽

CS WA Gegerkalong, Cilame 0812 2242 9223

CS WA Cibiru dan Jalan Golf 0877 0034 7724

CS WA Luar Bandung 0811 2233 1008

Tips Melindungi Anak dari Bahaya Internet dan Sosial Media. Melindungi anak-anak dari bahaya internet dan media sosial memerlukan peran aktif dan kesadaran dari orang tua. Dengan memberikan pemahaman, aturan yang jelas, dan dukungan, orang tua dapat membantu anak-anak menavigasi dunia digital dengan aman dan bijak.

{ Comments are closed }

Chat Sekarang
1
Chat Sekarang
Ada yang bisa kami bantu untuk Aqiqahnya..?